Cara Menulis Catatan Kaki dari Berbagai Sumber


Cara menulis catatan kaki jauh lebih mudah daripada cara menulis daftar pustaka dan cara menulis kutipan yang sudah dibahas sebelumnya. Salah satu alasannya adalah formatnya yang lebih sederhana. Tidak perlu aturan-aturan tertentu, karena pada dasarnya cara menulis catatan kaki dari berbagai sumber hampir sama.

Catatan kaki adalah catatan kecil di bagian bawah sebuah tulisan yang berfungsi untuk menerangkan kata tertentu dalam sebuah teks. Kata yang akan diterangkan biasanya diberi angka di bagian kiri atas (superscript). Nah, cara menulis catatan kaki tidak sembarangan, ada aturan khusus yang perlu diperhatikan.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Penulisan Catatan Kaki (Footnote)

  • Angka yang digunakan sebagai penanda catatan kaki ditulis di bagian atas sebelah kiri dari kata yang akan diberi catatan kaki.
  • Angka tersebut diurutkan berlanjut mulai dari 1 dan seterusnya sampai habis semua. Jadi tidak membuat penomoran ulang meskipun ganti bab atau topik pembahasan, sepanjang masih dalam satu buku.
  • Nama pengarang ditulis dengan format nama asli tanpa gelar dan tanpa dibalik.
  • Judul buku ditulis dengan format miring (italic) jika diketik menggunakan komputer dan ditulis dengan garis bawah jika diketik menggunakan mesin ketik.
  • Catatan kaki harus diletakkan di halaman yang sama dengan kata yang diberi catatan kaki.
  • Jika catatan kaki banyak, kurangi teks aslinya untuk memberi ruang untuk catatan kaki di bawahnya.
  • Jika catatan kaki lebih dari satu dalam satu halaman, beri jarak antar catatan kaki di bawahnya dengan sapasi baris yang sama.
  • Spasi antar baris/line spacing untuk catatan kaki adalah spasi 1.

Setelah mengetahui aturan yang harus dipenuhi sebelum menulis catatan kaki, sekarang giliran format penulisannya. Ada beberapa unsur yang harus di cantumkan dalam sebuah catatan kaki. Unsur tersebut adalah nama pengarang, judul buku, nomor seri (jika ada), data publikasi (umumnya berupa jilid, nomor cetakan buku, kota tempat terbit, nama penerbit dan tahun terbit) serta nomor halaman.

Jadi format penulisannya menjadi seperti ini:

1Nama Pengarang, Judul Buku (Kota Penerbitan: Nama Penerbit, Tahun Terbitan), Nomor halaman.

Atau

1Nama Pengarang, Judul Buku, Nama Penerbit, Kota Penerbitan, Tahun Terbitan, Nomor halaman.

Contoh Penulisannya Seperti Ini:

1Sirajam Munira, Mencari Uang dari Menulis di Blog (Jakarta: Guna Media, 2013), hlm. 29.

Atau

1Sirajam Munira, Mencari Uang dari Menulis di Blog, Guna Media, Jakarta, 2013, hlm. 29.

Secara garis besar penulisan catatan kaki (footnote) bisa memilih salah satu dari format yang ada di atas. Umumnya format tersebut disesuaikan dengan panduan yang dipakai oleh lembaga yang memberi tugas karya tulis. Jadi pastikan untuk menyocokkan dengan panduan yang berlaku.


Dalam praktek penulisan catatan kaki, ada beberapa catatan kaki dengan sumber yang berbeda-beda. Jadi menulis catatan kaki dari berbagai sumber memiliki format tersendiri. Supaya lebih jelas, mari kita bahas satu per satu.

Cara Menulis Catatan Kaki dari Berbagai Sumber yang Umumnya Dipakai

1. Cara Menulis catatan Kaki dari Sumber Buku Satu Pengarang

Jika catatan kaki diambil dari sumber berupa buku dengan satu pegarang, maka ditulis sama dengan format umum seperti di atas.

Contohnya seperti ini:

1Setiawan Djodhi, Sastra Jendra Hayuningrat dan Ilmu Tasawuf dalam Sufisme Jawa, Pustaka Punakawan, Surabaya, 1992, hlm. 35.

2. Cara Menulis catatan Kaki dari Sumber Buku Lebih dari Satu Pengarang

Sedangkan jika catatan kaki tersebut diambil dari sumber berupa buku dengan lebih dari satu pegarang, maka semua nama pengarang ditulis dalam format catatan kaki. Apabila hanya dua nama maka di sambung dengan “dan”. Sedangkan jika tiga atau lebih, maka cukup nama pertama dan dibubuhi “dkk” setelahnya.

Contohnya seperti ini:

2Suhardi dan Darmaji, Matematika Alam Semesta dan Paradoks Tuhan, Kosmos, Bandung, 1985, hlm. 169.

3Jaka Pranata dkk, Sosiologi Masyarakat Metropolitan, Lamasia, Banten, 1989, hlm. 71.

3. Cara Menulis catatan Kaki dari Sumber Internet

Khusus untuk catatan kaki yang diambil dari sumber internet, maka harus dicantumkan beberapa unsur. Mulai dari judul artikel, nama website, alamat website dan juga waktu aksesnya.

Contohnya seperti ini:

4Jamie Flanagan, The Secret of Anti-Matter and God Particle, New Science Today, diakses dari http://www.newsciencetoday.com/popular-science/ the-secret-of-anti-matter-and-god-particle.html, pada tanggal 11 september 2011 pukul 11.11 WIB

4. Cara Menulis catatan Kaki dari Sumber Majalah/Tabloid

Dalam menulis catatan kaki yang diambil dari sumber majalah atau tabloid, yang terpenting harus ada adalah judul artikel, nama majalah/tabloid, tanggal terbit, nomor edisi (kalau ada) dan nomor halamannya.

Contohnya seperti ini:

5Nurdiansah Alawy, Jajak Pendapat Negara-negara di ASEAN Mengenai Kesiapan MEA, Jawa Pos, 17 Desember 2015, hlm. 15.

5. Cara Menulis catatan Kaki dari Sumber Koran/Surat Kabar

Jika kita akan mencantumkan catatan kaki yang diambil dari sumber berupa koran atau surat kabar, maka cukup dengan mencantumkan nama koran atau surat kabar, tanggal terbit dan nomor halamannya saja.

Contohnya seperti ini:

6Kedaulatan Rakyat, 25 Mei 1999, hlm. 7.

6. Cara Menulis catatan Kaki dari Sumber Buku Terjemahan

Aabila kita ingin menulis catatan kaki yang diambil dari sumber berupa buku terjemahan, maka sama seperti catatan kaki pada buku biasa. Namun setelah bagian judul harus ditambahkan keterangan terjemahan dari siapa.

Contohnya seperti ini:

7Jean Claude van Damme, Heroisme dan Perspektif Hitam Putih, terj. Mulawarman Adi Darmawan, Globe Media, Kudus, 1997, hlm. 115-120.

Setelah mengetahui format penulisan catatan kaki dari berbagai sumber maka selanjutnya yang harus dierhatikan adalah peletakan catatan kaki. Dalam peletakan catatan kaki tidak boleh sembarangan. Jadi tidak asal di taruh di bagian bawah akhir halaman dari teks yang diberi catatan kaki saja. Melainkan ada aturan bakunya yang harus ditaati.

Aturan Peletakan Catatan Kaki yang Benar dan Sesuai Aturan

  • Harus tersedia ruang tersendiri untuk catatan kaki. Sehingga batas margin antara halaman dengan catatan kaki dan tanpa catatan kaki harus sama. Misalnya ketentuan margin bawah dokumen adalah 3 cm, maka margin bawah yang bercatatan kaki juga harus 3 cm.
  • Untuk memisahkan antara baris akhir teks dan catatan kaki, maka diantaranya harus diberikan garis pemisah. Garis pemisah diletakkan 3 line spacing (3 spasi baris) dari teks yang ada di baris terakhir. Panjang garis sebanyak 15 karakter huruf pica (––––––––––––––––) atau 18 karakter huruf dite (——————)
  • Barulah catatan kaki ditulis di bawah garis pemisah tersebut dengan jarak 2 line spacing (2 spasi baris). Selanjutnya penulisan baris pertama catatan kaki dimulai setelah 5-7 spasi dari margin paling kiri.
  • Selanjutnya tuliskan catatan kakinya sesuai dengan sumber yang kamu ambil dengan format penulisan seperti di atas.
  • Jika catatan kaki panjangnya lebih dari satu baris, maka baris kedua catatan kaki diketik mulai dari margin paling kiri.

Penggunaan Ibidem (ibid.), Opere Citato (op. cit.) dan Loco Citato (loc. cit.)

1. Pengunaan Ibidem

Penggunaan ibidem (ibid.) ketika sebuah kutipan dibawahnya sama dengan kutipan di atasnya dan belum diselingi dengan kutipan lain. Maka kutipan di bawahnya hanya perlu ditambah ibid. dan disertai nomor halamannya saja. Misalkan contohnya seperti ini:

1Abdul Majid, Dunia Fiksi dan Gairah Baca Kaum Muda, Jelaga Media, Yogyakarta, 2009, hlm. 28.
2Ibid., hlm. 30

2. Penggunaan Opere Citato

Penggunaan opere citato (op. cit.) ketika sebuah kutipan dibawahnya sama dengan kutipan di atasnya tetapi sudah diselingi dengan kutipan lain. Maka kutipan di bawahnya tersebut tetap mencantumkan nama pengarangnya kemudian ditambah op. cit. dan disertai nomor halaman. Misalkan contohnya seperti ini:

1Abdul Majid, Dunia Fiksi dan Gairah Baca Kaum Muda, Jelaga Media, Yogyakarta, 2009, hlm. 28.
2Gunawan Abichandra, Beragam Gaya Penulisan Fiksi dari Masa ke Masa, Garda Pelita, Magelang, 1989, hlm. 12.
3Abdul Majid, op. cit., hlm. 30

3. Pengunaan Loco Citato

Penggunaan loco citato (loc. cit.) ketika sebuah kutipan dibawahnya mempunyai nomor halaman yang sama dengan kutipan di atasnya. Maka kutipan di bawahnya tersebut tetap mencantumkan nama pengarangnya kemudian ditambah loc. cit. Misalkan contohnya seperti ini:

1Abdul Majid, Dunia Fiksi dan Gairah Baca Kaum Muda, Jelaga Media, Yogyakarta, 2009, hlm. 28.
2Gunawan Abichandra, Beragam Gaya Penulisan Fiksi dari Masa ke Masa, Garda Pelita, Magelang, 1989, hlm. 12.
3Abdul Majid, loc. cit.



Leave a Reply