Contoh Cerpen Singkat “Relakan Suamimu Pergi”




Contoh cerpen singkat berikut ini ditulis oleh redaksi kliping.co sendiri. Selain untuk mengisi waktu luang, contoh cerpen singkat ini bertujuan untuk memberikan beberapa contoh pada pembaca yang ingin menlis cerpen. Ini menjadi bukti bahwa menulis cerpen tidak harus panjang, cukup singkat, padat tapi punya jalan cerita. nah, tak usah berbasa-basi lagi, silakan baca isi cerpen singkat karya kliping.co berikut ini.

Contoh Cerpen Singkat dengan Judul “Relakan Suamimu Pergi”

 

Relakan Suamimu Pergi

Pagi itu meja sudah tertata dengan rapi, nasi, sambal ijo, dan ikan teri sudah siap di atas meja makan. Kardi yang baru selesai mandi sudah disambut dengan semerbak wangi nasi yang dimasak oleh Pariyem, istri tercintanya. Sengaja Pariyem memasakkan nasi dari beras pari wangi, yang memang boleh dikatakan itulah beras dari padi yang lumayan mahal harganya. Kardi yang semula ingin langsung memakai baju dinasnya, mampir sebentar untuk menengok ke atas meja makan sambil membayangkan betapa enaknya makanan itu bila nanti ditelan melewati tenggorokannya.

Lekas-lekas ia bertanya pada istri tercintanya, “Nimas, ada acara apa to kok masak enak hari ini?”, seketika istrinya datang menghampirinya sambil membawakan kopi hitam kental kesukaannya lalu dijawabnya pertanyaan Kardi sambil tersenyum manis, “Ndak ada apa apa kangmas, wong lagi pengen saja.”. Kardi yang semula hanya bengong melihat masakan Pariyem istri tercintanya langsung ke kamar dan tergesa-gesa memakai seragam dinas dan atributnya, termasuk topi yang tersematkan lencana kecil berlambangkan garuda dan lencana bintang dipasangnya di saku kanan bajunya sedangkan di saku kirinya lencana berbentuk bendera merah putih yang sudah tersusun rapi, karena memang tak pernah ia lepaskan dari bajunya meski sedang dicuci sekalipun. Sebuah kecintaan terhadap tugas yang diberikan kepadanya dan rasa bangga yang mendalam kepada tanah air tercintanya yang sudah menjadi darah daging juga tulang yang menjadi rangka dalam gerak-gerik tubuhnya.

Kursi langsung ditariknya dari bibir meja dan dengan cepatnya pula ia mengmbil piring untuk disusun diatas meja, sebagai suami yang baik dan amat sayang pada istrinya ia juga menarikkan kursi disebelahnya dan menyusunkan piring untuk istri tercintanya yang sedang ke dapur untuk membereskan panci dan penggorengan dari tungku berbahan bakar kayu bekasnya memasak tadi. Tak lama kemudian istrinya muncul dari balik bilik bambu yang merupakan sekat antara ruang makan dengan dapur sambil mengelapkan kedua tanganya yang basah sehabis mencuci alat-alat masaknya tadi ke baju batik model kebaya yang dipakainya.

“Nimas, ayo duduk sini dekat kangmas, kita makan berdua.”, ucap Kardi, Pariyem pun tanpa di aba-aba lagi segera mengambilkan nasi untuk suami tercintanya dan barulah ia mengmbil untuk dirinya sendiri setelah melayani suaminya. Suasana hangat memang sedang mereka rasakan, terhitung baru dua bulan mereka menikah tepat ketika ia baru pulang dari megikuti pelatihan seinendan yang bisa dikatakan seinendan adalah tentara sipil didikan jepang. Makanan sudah habis dilahap Kardi, langsung ia berdiri sambil menyeruput kopi hitam kental buatan istri tercintanya, tapi ketika ia ingin pergi Pariyem menarik tangan suaminya, sehingga mereka saling berhadap-hadapan, di rapikannya baju dan lencana bintang yang memang terlihat miring, sambil meneteskan air mata ia berkata, “Kangmas, jaga dirimu, do’aku akan selalu menyertaimu.”

Tanpa berkata apapun Kardi langsung mencium kening istrinya dan bergegas pergi begitu saja, padahal dalam hatinya ia bergumam, “Tenang saja nimas, aku pasti pulang untukmu.”. Istrinya sebenarnya sudah tahu resiko yang akan diterimanya kalau ia menikah dengan seorang tentara seinendan yang entah kapan dia pergi dan entah kapan dia pulang, tiada kata menyesal dalam hati Pariyem melainkan rasa bangga yang tak terkira mempunyai suami pejuang yang amat cinta pada dirinya dan tanah air tercintanya. Lekas-lekas dihapusnya air mata yang mengalir pelan di pipinya dengan kedua tangannya yang sempat memengang tangan suaminya yang entah kapan dia bisa menyentuhnya lagi atau bahkan tidak untuk selama-lamanya.

Setelah Kardi sampai di markas pelatihannya, ia segera melapor pada atsannya yang kala itu adalah Supriadi, pejuang PETA singkatan dari pembela tanah air yang dibentuk langsung oleh Bung Karno untuk berjuang melawan Jepang. “Kumpulkan pasukan di lapangan upacara segera!”, kata Komandan Supriadi, “Siap laksanakan!”, jawaban lantang dan bersemangat dari Kardi yang langsung keluar ruangan untuk membentuk barisan tentara seinendan dibawah komandonya. Beberapa menit kemudian Komandan Supriadi keluar dengan atribut lengkapnya naik ke mimbar yang ada di tengah-tengah lapangan upacara markas seinendan distrik Tuban.

”Hari ini kita mendapat amanah dari Bung Karno melalui surat yang saya pegang ini, isinya bahwa kita ditugasi untuk mengirimkan pasukan untuk berjuang dibawah komando Jendral Sudirman.” Kata yang terucap singkat, padat, dan jelas sebelum Komandan Supriadi turun dari mimbar. Satu persatu tentara yang jumlahnya ratusan didatangi dan ditepuk punggungnya yang para tentara seinendan sudah paham apa maksud Komandan Supriadi, dan yang ditepuk pertama dengan mantabnya adalah Kardi, artinya dia menjadi pemimpin bataliyon yang dikirim untuk berjuang bersama Jendral Sudirman memimpin kawan-kawannya yang juga ditepuk punggungnya oleh Komandan Supriadi.

Tanpa di aba-aba langsung Kardi dan kawan-kawannya yang terpilih lari kedalam markas untuk berkemas dan langsung kembali ke lapangan untuk mengikuti upacara pemberangkatan yang dipimpin langsung oleh Komandan Supriadi. Setelah selesai Kardi dan kawan-kawannya bergegas berangkat untuk bergabung dengan Jendral Sudirman tanpa berpamitan dengan anak-anak dan istri mereka terlebih dahulu, untuk berperang melawan penjajah Jepang yang sudah menduduki Indonesia hampir tiga setengah tahun. Mereka sudah paham kalau Komandan Supriadi telah mengutus tentara lain yang tidak ikut berperang untuk menyampaikan pesan-pesan darinya dan kawan-kawannya pada istrinya dan istri dari kawan-kawannya yang ditugaskan untuk berperang agar mendapat kepastian tentang keadaan suaminya.

Pariyem yang tak tahu kalau suaminya diutus untuk berperang masih sibuk didapur menyiapkan makanan yang enak untuk suami tercintanya, kali ini lauknya lebih enak lagi dari yang tadi pagi ia hidangkan dengan rapi tersusun telur goring dibuat mata sapi yang mungkin setahun sekali baru dimakannya bersama suaminya. Tidak cukup itu saja tak lupa ia juga membuatkan segelas kopi hitam kental kesukaan suami tercintanya. Tak lama setelah ia selesai membuatkan kopi dan meletakkannya diatas meja makan, terdengar ada suara orang yang mengetuk pintunya, “Pasti itu kangmas.” Ucapnya lirih dengan muka sumringah.

Dibukanya pintu yang sudah di depan matanya, “Kok su….” Kata-katanya tidak diteruskan, karena ternyata bukan suaminya, “Ada apa ya kang? Kangmas Kardi belum pulang, silahkan duduk!” dengan sopan mempersilahkan tamunya yang serdadu seinendan sama seperti suaminya. Serdadu tersebut langsung menggerakkan tangannya mengisyaratkan bahwa dia tak lama sambil berucap, “Oh ndak usah mbakyu, saya cuma pengen menyampaikan pesan dari kang Kardi saja.”, langsung raut muka senang berubah jadi khawatir dan seketika itu pula detak jantung Pariyem berdegup tak karuan sambil terpaku sejenak lalu lekas-lekas ia bertanya dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa kang dengan kangmas? Apa ia dihukum? Apa ia terluka saat latihan dan dirawat dimarkas? Ada apa kang? Ada apa?”, “Emm..ee..emm..nganu mbakyu, kang Kardi ditugaskan untuk berperang bersama Jendral Sudirman, ia berpesan pada mbakyu supaya mendo’akannya selalu dan ia juga berpesan satu hal “Masak yang enak lagi ya saat kangmas pulang nanti, akan kangmas bawakan bunga yang indah untukmu.”. Pariyem hanya terpaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, serdadu itupun ppamit pulang ke markas, “Sampun, kulo pamit dulu mbakyu, monggo!”.

Seiring perginya serdadu itu, peluh perlahan jatuh dari pelupuk mata Pariyem, dalam hatinya ia berucap “Kangmas harus pulang, ada kabar yang ingin aku sampaikan.”. Padahal jika saja sore itu pulang kerumah, maka ia sudah pasti disambut dengan manisnya senyum Pariyem yang memperlihatkan gingsulnya juga dekik atau lesung pipinya yang dulu membuat Kardi kepincut untuk meminangnya menjadi seorang istri, selain itu juga hidangan berlaukkan telur yang terakhir sudah setahun lalu ia memakannya.

Pariyem berharap suaminya bertanya lagi, “Nimas, ada acara apa to kok masak enak hari ini?”, dan jika itu yang ditanyakan, maka akan dijawabnya, “Aku ngidam kangmas.”, pastilah suaminya sudah paham apa yang dikatakan oleh Pariyem. Akan tetapi semuanya hanya tinggal rencana saja, karena suaminya tak akan pulang untuk sesaat, atau mungkin tak pulang lagi. Tapi buru-buru ia mengusap air matanya sambil mengelus-elus perutnya ia seolah-olah berkata pada anak yang ada dalam kandungannya yang baru dua minggu, “Nak, bapakmu pasti pulang dengan selamat, do’akan saja ya!”, tanpa sadar peluhnya menetes lagi dari pelupuk matanya yang merah sayu. Setiap kali ia sembahyang, pasti ia berdo’a untuk keselamatan suami tercintanya agar diberi keselamatan dan bisa berjumpa lagi dengannya juga jabang bayi yang dikandungnya.

Sementara itu Kardi telah sampai dan bergabung dengan pasukan lain yang dipimpin oleh Jendral Sudirman, yang kala itu ia dan kawa-kawannya disambut langsung oleh Jendral Sudirman. Dalam hatinya ia merasa bangga sekaligus takut kalau-kalau terjadi apa-apa dengan istri tercintanya yang sedang ada dirumah. Setelah bermalam satu malam saja, paginya langsung Jendral Sudirman memerintahkan seluruh pasukan untuk bergerak melancarkan perang gerilya ke markas-markas penjajah menyusuri hutan rimbun yang setapak demi setapak berhari-hari dilewati oleh mereka semua.

Satu persatu markas Jepang dilumpuhkan dan begitupun pula tidak sedikit pasukan yang rata-rata serdadu seinendan seperti Kardi berguguran di medan perang. Hampir separuh tugasnya rampung, pun juga pasukannya tinggal separuh dari pasukan yang berjumlah seratus orang. Malam itu gerilya di istirahatkan oleh Jendral Sudirman untuk mengisi peluru dan menghibur diri agar tidak jenuh setiap hari berperang. Ditemani oleh api unggun, pasukan yang tersisa termasuk Kardi duduk membentuk lingkaran sambil Jendral Sudirman memberikan pencerahan dan motivasi penyemangat untuk anak buahnya.

“Apa kalian rindu anak, istri, dan sanak saudaramu?”, seraya semua pasukan menjawab, “Siap iya!”, “Begitupun juga aku, tapi apa yang paling kita rindukan adalah kemerdekaan, bila rindu akan kemerdekaan sudah terpenuhi, maka rindu akan anak, istri, dan sanak saudara akan segera terpenuhi.” Itulah yang menjadi kata-kata penyemangat para pasukan untuk berperang setiap saat demi mencapai kata merdeka.

Setiap malam juga Pariyem berdo’a untuk suaminya tanpa henti-henti iya berdo’a agar suami tercintanya selalu dalam lindungan dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan segera pulang ke rumah. Itulah yang dilakukannya selama berhari-hari, berbulan-bulan dan hampir sepertiga tahun ia lalui hidupnya bersama anak yang ada dalam kandungannya menanti dia pulang ke rumah. Sementara itu perangpun berlanjut dengan komando dari Jendral Sudirman, Kardi menyergap dari sisi belakang markas penjajah dengan hati-hati, satu persatu tentara penjajah dilumpuhkannya dengan cekatan, pantas saja dia dapat lencana bintang yang artinya dia termasuk tentara yang mahir berperang secara individu.

Tinggal satu lagi, yaitu Laksamana yang ada di markas itu, rupa-rupanya dia sudah ditunggu untuk berduel satu lawan satu dengan Laksamana tersebut. Senjatanya diletakkan jauh dari tempatnya berdiri, tak gentar Kardi dengan lencana yang terhambur di seragam Laksamana yang sempat dilihatnya ada tulisan nama Heguichi Sato sebelum seragam itu dilepas.


Tendangan, pukulan, bantingan silih berganti dilakukan oleh keduanya yang sudah Nampak terengah-engah sampai suatu ketika Kardi yang melihatnya lengah langsung melayangkan pukulan disertai tendangan yang membuat Heguichi Sato terkapar, melihat Laksamana itu tak berdaya ia bergegas pergi.

“Kukunapa kkamu ttidak mumbbunuhh ssaiyyaa?” sesak sakit dengan logat Jepang ia berkata pada Kardi. “Lebih terhormat saya berbuat seperti ini.” Jawab Kardi, “Llebihh turuhormatt ssaiya mmati dengann harrakiri!”, langsung Laksamana tersebut menancapkan samurai kecil ke dadanya. Kardi menunduk sejenak lalu bergegas mengambil senjatanya dan kembali melapor pada Jendral Sudirman dengan luka lebam bekas pukulan dan tendangan Laksamana Heguichi Sato.

Hari-hari berlalu dengan perang, sampai sampai Jendral Sudirman sakit dan harus ditandu oleh anak buahnya berbulan-bulan sampai suatu ketika Jendral Sudirman menghembuskan nafas terakhirnya, yang jasadnya langsung dimakamkan dengan seragam dan lencana yang melekat pada tubuhnya. Pesan Jendral Sudirman sebelum wafat:

“Jikalau aku mati nanti, pulanglah kalian pada keluarga kalian.”, namun ditengah kesedihan itu Kardi berkata pada kawan-kawannya, “Wahai kawan-kawanku apakah kita harus terhenti disini sebelum rindu kita terpenuhi? Rindu akan kemerdekaan, biarlah aku pimpin pasukan ini dan kita lanjutkan perang sampai titik darah penghabisan!”, langsung semua menyahut, “Merdeka atau mati!”. Gerilya pun diteruskan hingga akhirnya berakhir dengan kemenagan pasukan Jendral Sudirman yang dipimpin oleh Kardi dengan menyisakan sepuluh pejuang termasuk Kardi.

Perjuangan berakhir di distrik Tuban utara yang memang gerilya dimulai dari jawa tengah ke jawa timur yang berakhir di distrik Tuban, tepat sudah janji mereka untuk memenuhi tugas yang diamanahkan, perjalanan sehari lagi ia akan sampai ke markas seinendan distrik tuban untuk melapor pada Komandan Supriadi tentang hasil gerilyanya dibawah komando Jendral Sudirman. Sesampainya dimarkas ia lngsung melapor, “Lapor, pasukan dibawah komando Jendral Sudirman telah melaksanakan tugas dengan baik, laporan selesai!”, “Atur barisan!”, jawab Komandan Supriadi dan segera dijawab pula oleh Kardi yang Nampak luka-luka yang tak sedikit, buah tangan dari gerilyanya bersama pasukan lain, “Siap laksanakan!”.

Upacara singkat diadakan untuk penyambutan kembali, setelah itu Kardi meminta izin untuk segera pulang menengok istrinya yang tercinta. Bergegas lari tanpa membawa apa-apa selain bunga yang dipetik dari gerbang markas seperti yang sudah dijanjikannya pada Pariyem sebelum berangkat berperang yang dismpaikan oleh kawannya. Ternyata hari itu tepat Sembilan bulan sepuluh hari, istrinya sedang berjuang melahirkan anaknya, sesampainya di gapura desanya dia disambut oleh seorang anak kecil teregah-engah sambil berkata, “Lik lik lik pa pa Pariyem.”, “A a ada apa le dengan lik Pariyem?” sahut Kardi, “Lik Pariyem melahirkan pak lik.”, jawab anak itu.

Tanpa diaba-aba Kardi berlari dengan bunga kantil yang digenggamnya menuju rumahnya tepat saat dia masuk rumah terdengar suara bayi menagis, langsung dia masuk ke kamar meletakkan bunga kantil disamping kasur tempat istrinya merebahkan diri dan berkata, “Nimas? Anakku? Bapak pulang nak.”. Wajah ayu Pariyem lansung Nampak lagi ketika mendapati suaminya pulang dengan selamat, diceritakannya hari-hari tanpa suaminya dan saat akan disampaikannya berita bahwa ia hamil saat itu Kardi baru berangkat berperang.

“Maafkan bapak ya nak? Maafkan kangmas ya nimas?” sambil mengucurkan air mata ia berkata pada anak dan istrinya. Kala itu tanggal 14 Agustus 1945, ia masih larut dalam keharuan tiba-tiba orang-orang meneriakkan, “Jepang menyerah pada Sekutu!” berulang-ulang. Betapa bahagianya Kardi mendengar itu dan tidak sia-sialah ia berjuang meninggalkan keluarganya. Yang lebih menggembirakan lagi tiga hari setelah anak laki-lakinya lahir tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan lantang didengarnya lewat RRI.

Sungguh kebahagiaan yang tiada tara tergambar di wajah Kardi, ia ingat kata-kata Jendral Sudirman, “Apa yang paling kita rindukan adalah kemerdekaan.”. Dan sekarang rindu itu sudah terobati.

Sebagai rasa syukurnya ia menamai anaknya Sugeng Santoso yang dalam jawa artinya selamat sejahtera, untuk hidupnya bersama istri dan anak tercintanya entah mungkin barang sesaat atau untuk selamanya ditanahku tercinta ini, memandang bendera merah putih yang berkibar gagah ditiup angin.

Leave a Reply