Kelainan akibat cedera kepala dapat timbul setelah adanya benturan keras di area kepala. Secara medis, ada beberapa level kategori cedera pada kepala. Ada yang ringan, sedang dan berat. Khusus untuk cedera kepala berat sebagian besar berbahaya dan dapat berakibat fatal. Oleh sebab itu jika terjadi benturan pada kepala, sebaiknya segera dibawa ke pusat medis seperti Puskesmas atau Rumah Sakit. Sebab di sana cedera akan di diagnosa dan disimpulkan hasil pemeriksaannya. Dari beberapa kelainan akibat cedera kepala, ada 6 kelainan yang cukup berbahaya. Mulai dari bahaya rendah sampai bahaya level tinggi yang berujung pada kematian.

6 Kelainan Akibat Cedera Kepala yang cukup Berbahaya

1. Amnesia

Kelainan akibat cedera kepala yang paling ringan adalah amnesia. Dmana jika seseorang menderita amnesia, maka sebagian atau seluruh ingatannya akan hilang. Maka dari itu, amnesia digolongkan menjadi dua, yakni amnesia ringan (kehilangan sebagian ingatan) dan amnesia berat (kehilangan seluruh ingatan).

Amnesia ringan sendiri umumnya terbagi menjadi dua macam, yakni amnesia retrogard dan amnesia pasca trauma. Amnesia retrogard adalah terjadinya hilang ingatan tentang peristiwa sebelum kejadian benturan. Sedangkan amnesia pasca trauma adalah terjadinya hilang ingatan setelah peristiwa terjadinya benturan. Kedua amnesia ringan ini umumnya bersifat temporer/sementara dan akan pulih kembali.

Namun untuk kelainan akibat cedera kepala yang parah dapat menimbulkan amnesia berat. Sifatnya bisa permanen dan bahkan seumur hidup. Sehingga penderitanya akan mengalami hilang ingatan sepajang hidupnya, terutama tentang memori masa lalu dan tentang siapa dirinya. Hal terebut timbul akibat adanya penyumbatan pembuluh darah pada arteri.

Sehingga dalam proses penyembuhannya hars dilakukan dengan jalan khusus seperti pemberian obat tertentu dan bahkan bila diperlukan juga akan dilakukan operasi. Meski begitu, dalam kehidupan sehari-hari, penderita amnesia masih bisa beraktifitas layaknya orang normal dan juga berinteraksi secara lancar. Hanya saja ingatannya akan masa lampau akan hilang. Maka perlu adanya dukungan orang terdekat dan keluarganya untuk mengarhkan orientasi hidup si penderita.

2. Agnosia

Ketika seseorang mengalami agnosia, secara tidak langsung akan menimbulkan gejala tertentu. Umumnya si penderita ini akan kesultan menganalisa kegunaan benda yang dilihatnya. Meski pun secara jelas, penderita agnosia dapat melihat wujud dan juga bentuk benda yang ada di sekitarnya. Misalkan saja dia diberi sendok untuk makan. Dia tahu bahwa benda itu sendok, tetapi dia tidak tahu harus diapakan benda terebut.

Kelainan akibat benturan keala ini sedikit di atas dari amnesia. Karena penderita tidak hanya lupa pada peristiwa sebelumnya, tetapi juga kehilangan fungsi memori akan benda-benda disekelilingnya. Secara medis, kelainan akibat benturan kepala ini mengakibatan kerusakan fungsi lobus parietalis dan lobus temporalis. Dimana jika terjadi kerusakan di kedua lous tersebut, maka ingatan masa lalu dan ingtan tentang kegunaan atau fungsi benda di sekitarnya akan hilang.

Selain akibat dari benturan, agnosia juga dapat diderita oleh orang yang baru sembuh dari stroke. Umumnya kejadian seperti ini terjadi karena efek dari kerusakan syaraf yang berada di otak. Meski tidak terlalu berbahaya, namun agnosia dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Dia akan kesulitan menjalani hidup dan melakukan aktivitas pribadinya sendirian. Maka solusi terbak yang bisa dilakukan adalah pengobatan medis dan dukungan orang-orang di sekitarnya.

3. Apraksia

Apraksia adalah kelainan akibat benturan kepala yang tergolong cukup kompleks. Dimana penderitanya tidak dapat melakuakan aktivitas yang berkaitan dengan ingatan dan gerakan. Secara garis besar, si penderita akan kesulitan dalam beraktivitas. Seperti misalnya mengenali fungsi benda dan menggerakkan tangannya untuk memegang dan menggunakan benda tersebut.

Kerusakan yang terjadi pada lobus parietalis dan juga lobus frontalis adalah penyebabnya. Dimana lobus parietalis bertugas untuk mengumpulkan dan juga mengenali benda dan fungsi-fungsinya. Sedangkan lobus frontalis bertanggungjawab pada fungsi pengaturan gerakan berdasarkan perintah otak. Jadi si penderita sebenarnya ingin menggerakkan anggota geraknya, namun perintah yang dikirim dari otak tidak dapat diterima dengan baik. Sehingga seluruh anggota gerak penderita merespon lambat dan bahkan terkadang tidak merespon.

Ada beberapa jalan medis yang dapat ditempuh, diantaranya adalah dengan mengkonsumsi obat tertentu, operasi dan juga terapi. Karena afraksia sendiri merupakan kelainan akibat benturan kepala yang cukup kompleks. Pemberian obat-obatan dan operasi akan menolong mengurangi kerusakan pada lobus parietalis dan lobus frontalis. Sedangkan terapi dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi gerak yang sempat hilang pasca bentran di kepala.

4. Afasia

Pada level yang sedikit lebih berbahaya, benturan di kepala dapat mengakibatkan afasia. Afasia adalah kelainan akibat benturan kepala yang menyebabkan hilangnya kemampuan menggunakan bahasa. Sehingga si penderita sangat kesulitan untuk menngunakan fungsi berbahasanya. Nah, dalam hal ini, terdapat beberapa jenis gangguan berbahasa yang bisa timbul akibat afasia.

Beberapa diantaranya adalah aleksia, anomia, disatria, afasia wernicke dan afasia broca. Aleksia adalah hilangnya kemampuan memahami bahasa yang tertulis/teks. Anomia adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat dan mengungkapkan nama-nama benda. Ada yang tidak mampu mengingat dan mengungkapkan, ada juga yang mampu mengingat tetapi sulit untuk menyebutkan.

Kemudian ada juga disatria yang merupakan kehilangan fungsi artikulasi bahasa dalam menyebutkan nama-nama benda. Sedangkan afasia wernicke adalah kehilangan kemampuan untuk menyebutkan kata-kata dalam percakapan. Dimana kata-kata yang keluar sangat lancar namun cederung acak tanppa arti. Terakhir ada afasia broca yang merupakan kehilangan fungsi memahami tanggapan dan jawaban. Sehingga yang keluar ketika seseorang penderita di ajak bicara adalah jawaban yang aneh dan cenderung asal-asalan dan tidak masuk akal. Meski begitu, baik afasia wernicke maupun afasia broca, keduanya mampu berbicara lancar tanpa hambatan.

5. Epilepsi

Epilepsi yang umum terjadi pada saat setelah mengalami benturan di kepala tidak sama dengan epilepsi penyakit bawaan. Epilepsi ini terjadi umumnya setelah adanya benturan di kepala. Sehingga biasanya epilepsi ini disebut epilepsi pasca trauma. Gejalanya adalah terjadi kejang yang abnormal yang terjadi pada penderita sesaat setelah kepalanya terkena benturan yang sukup keras.

Kelainan akibat benturan kepala ini terjadi akibat respon terhadap muatan listrik yang ada di otak si penderita. Umumnya kejang seperti ini kemungkinan sebesar 10% terjadi pada penderita benturan kepala tanpa luka tembus. Sedangkan pada penderita yang mengalami luka tembus, resikonya meningkat sebesar 40%. Pada beberapa kasus, kejang pasca trauma tidak terjadi sesaat setelah benturan. Melainkan ada yang terjadi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.

Salah satu jala untuk mengatasi kejang akibat epilepsi pasca trauma adalah dengan obat-obatan anti-konvulsan. Sehingga pada saat tertentu yang terjadi kejang begitu hebat, penderita bisa diteangkan. Kelainan akibat benturan kepala seperti ini jauh beresiko dan dapat membahayakan keselamatan penderitanya. Apalagi jika kejang tida segera diatasi.

Kemungkinan terburuk adalah kematian akibat kerusakan sistem otak. Karena tingkat bahaya dan parahnya keainan ini, maka pemberian obat-obatan anti konvulsan tidak dapat ditentukan batas waktu pemberiannya. Bisa beberapa tahun sampai paling berat seumur hidup.

6. Prognosis

Kelainan akibat cedera kepala ini bisa dibilang yang paling berbahaya. Karena prognosis langsung berakibat pada kesadaran penderita setelah terjadinya benturan di kepala. Jadi sesaat pasca terjadinya benturan keras di area kepala, kesadaran penderita umumnya kan hilang beberapa menit. Apabila kesadaran yang hilang tersebut berlanjut, maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi.

Pertama adalah koma, bisa koma sementara atau koma permanen. Koma sementara umumnya terjadi untuk hitungan hari, minggu dan bulan. Sedangkan koma permanen terjadi hilang ingatan yang sudah bertahun-tahun. Meski cukup parah, namun penderita koma dapat sadar jika dilakukan penanganan yang tepat sesaat setelah peristiwa benturan. Namun untuk pulih secara maksimal tentu butuh waktu yang panjang.

Kedua adalah kemungkinan terburuk, yakni kematian. Prognosis yang dialami penderita seperti ini kemungkinan adalah akibat benturan yang amat keras. Sebanyak 75% dari korban biasanya mengalami kematian seketika di tempat. Sisanya sebanyak 25% meninggal saat dalam perjalanan atau saat perawatan medis. Biasanya akibat kerusakan struktur otak yang sudah sangat parah. Sehingga sistem kehidupan yang diatur oleh otak tida bekerja.