Akulturasi, Pengertian dan Contoh Akulturasi Budaya


Akulturasi berasal dari istilah bahasa latin “Aculturate”, yang berarti “tumbuh dan berkembang bersama-sama”. Bila diartikan secara umum dapat didefinisikan bahwa Akulturasi (aculturation, dalam bahasa inggris) merupakan perpaduan dua atau lebih kebudayaan, sehingga muncul budaya baru tetapi tidak menghilangkan budaya lama.

Misalkan kesenian wayang kulit dengan agama islam. Setelah islam masuk, wayang kulit masih tetap ada, namun mulai mengadaptasi syiar dan dakwah islam, sehingga tidak hanya sekedar hiburan saja.

Biasasnya proses akulturasi terjadi dalam kurun waktu yang lama. Sehingga antara satu budaya dan budaya lainnya saling memiliki pengaruh kuat. Kemudian budaya baru yang tercipta akan disepakati bersama sebagai budaya baru suatu kelompok. Lebih jauh lagi akulturasi didefinisikan secara spesifik oleh para ahli.

Pengertian Akulturasi Menurut Ahli

Menurut Koentjaraningrat, akulturasi merupakan sebuah proses sosial yang terjadi apabila sebuah kelompok sosial dihadapkan dengan kebudayaan luar/kebudayaan asing yang berbeda.

Kemudian proses akulturasi dapat terjadi apabila ada persenyawaan/affinity. Maksudnya harus ada penerimaan kebudayaan luar/asing tanpa penolakan. Kemudian budaya baru tersebut menjadi nilai baru yang diakui karena memiliki kemiripan budaya dengan budaya yang lama.

Faktor Pendukung Akulturasi Budaya

Banyak faktor yang dapat mendukung terjadinya akulturasi budaya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Kontak sosial yang terjadi di masyarakat, baik sebagian masyarakat maupun antar individu dari dua kelompok masyarakat.
  • Kontak budaya dalam hubungan persahabatan maupun saling bermusuhan.
  • Kontak budaya antara penguasa dan yang dikuasai, melalui unsur budaya, ekonomi, bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, agama dan kesenian.
  • Kontak budaya antara masyarakat mayoritas dengan masyarakat minorotas.
  • Kontak budaya antara sistem sosial budaya yang berbentuk nilai dan norma.

Faktor-faktor tersebut merupakan pintu masuk sebuah akulturasi. Apabila budaya pendatang/budaya asing dapat masuk, tidak serta merta diterima. Budaya tersebut akan dibawa meningkat pada tahap selanjutnya, yakni seleksi kultur.

Dimana budaya baru bisa menggantikan yang lama tanpa menghilangkan budaya lama, atau bahkan menggantikan budaya lama secara total. Itu artinya asimilasi budaya bisa saja terjadi dalam proses akulturasi budaya.

Pengertian Asimilasi, Unsur dan Proses Asimilasi

Asimilasi budaya adalah pembauran antara kedua budaya yang menghilangkan budaya lama dan digantikan dengan budaya baru. Jadi asimilasi merupakan kebalikan dari akulturasi, namun saling berkaitan. Sehingga baik asimilasi maupun akulturasi berinteraksi membentuk budaya baru. Contoh asimilasi adalah budaya larung sesaji, sejak masuknya islam larung sesaji menjadi hilang, digantikan dengan syukuran.

Hal tersebut bisa terjadi akibat adanya unsur asimilasi yang mendasarinya. Unsur tersebut berperan sebagai patokan, apakah budaya asing tersebut bisa diterima secara mudah atau justru sangat sulit diterima. Unsur yang mempermudah asimilasi adalah:

  • Perkembangan teknologi dan alat komunikasi baru, dimana mengakses informasi dan budaya makin mudah dan cepat.
  • Kebudayaan luar/asing berbentuk budaya material, artinya berwujud atau dapat dirasakan, bukan ideologi, konsep atau gagasan.
  • Kebudayaan luar/asing tersebut mempunyai pengaruh besar dan masif.
  • Kebudayaan luar/asing tersebut mempunyai kemiripan dengan budaya lama, sehingga mudah menyesuaikan.

Sedangkan unsur budaya asing yang membuat sulit diterima jauh lebih sedikit. Namun unsur tersebut mempunyai kriteria yang sulit. Khususnya bagi beberapa budaya yang memang sengaja dipaksakan. Namun secara umum unsur yang membuat budaya sulit berasimilasi adalah:

  • Kebudayaan luar/asing tersebut memiliki pengaruh luas, sehingga mampu merubah struktur, tatanan atau sistem sebuah masyarakat secara total. Sehingga reaksi yang ditimbulkan adalah penolakan terhadap budaya tersebut.
  • Kebudayaan yang mempengaruhi dan membentuk pola pikir baru dalam masyarakat. Biasanya pola pikir yang disampaikan bertentangan dengan budaya lama, karena saling bertahan, maka asimilasi tidak akan terjadi.
  • Memasukkan unsur budaya secara mendadak dalam aspek yang luas. Tentunya akan muncul tabrakan nilai dan norma dalam masyarakat. Jika tidak cukup kuat, maka budaya luar/asing akan terpinggirkan kemudian cepat hilang.

Nah unsur-unsur di atas dapat disisipkan dalam budaya lama melalui dua proses. Proses pertama dengan damai dan yang kedua dengan ekstrim.

Proses damai tentunya tanpa paksaan pada masyarakat berbudaya lama untuk menerima budaya luar/asing. Contohnya adalah perkembangan teknologi.

Sedangkan proses ekstrim cenderung memaksa dan mengendalikan masyarakat budaya lama untuk menerima budaya luar/asing. Contohnya adalah penjajahan atau perebutan wilayah.

Contoh Akulturasi Budaya Dalam Kehidupan

Akulturasi budaya yang telah berhasil diserap dalam masyarakat selanjutnya menghasilkan pengaruh terhadap kehidupan. Pengaruh tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk materiil. Sebagian besar dari contoh tersebut ada di sekitar kita, diantaranya adalah:

Seni Arsitektur dan Banguan

Banyak diantara budaya luar/asing yang terbukti sudah mengakulturasi budaya lokal. Salah satunya dari seni arsitektur dan bangunan yang ada. Banyak bangunan tipe lama mempunyai aksen budaya luar/asing. Terutama pada bangunan yang mencolok seperti candi, pura, masjid, maupun bangunan bersejarah.

Sebagai contoh, masjid demak menggunakan tipe bangunan jawa dengan aksen menara dan hiasan kaligrafi. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi akulturasi budaya antara budaya Jawa dan islam dari Timur Tengah dengan baik.

Seni Rupa dan Seni Pahat

Seni rua dan seni ahat meruakan media akulturasi budaya yang amat kental terasa. Dimana satu budaya dappat mempengaruhi aksen budaya lama dalam hal seni tersebut. Sebagaimana dapat dilihat pada peninggalan sejarah seperti candi atau situs sejarah.

Pada perangkat rumah tangga atau mata uang terdapat gambar dan ukiran hasil akulturasi. Misalkan saja pada masa kerajaan mataram hindu dan mataram islam. Di zaman mataram hindu perangkat rumah tangga bergambar dan berukiran manusia dan hewan. Sebab teregaruh oleh kebuudayaan hindu yang mengagungkan dewa dan binatang.

Sedangkan ada masa mataram islam, kebanyakan bergambar tumbuhan seperti sulur, daun, mauun bunga. Sebab islam menganjurkan untuk tidak menggambar manusia dan hewan.

Seni Sastra dan Bahasa

Bahasa juga termasuk gerbang akulturasi budaya paling cepat. Sebab bahasa adalah media komunikasi dan bertukar informasi. Sehingga sangat mudah tersebar dalam masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Nah, dari bahasa itu kemudian timbullah akulturasi pada seni kesusatraan.

Dimana budaya baru mampu menambah khasanah sastra lama menjadi bentuk baru. Misalkan saja pada kesusastraan berbentuk kitab jawa yang sudah ada sejak lama. Kemudian muncul budaya islam, sehingga mempengaruhi kitab lama.

Muncullah kitab kuning yang biasa diajarkan di pondok-pondok kuno. Dalam kitab kuning menggunakan huruf arab gundul tanpa tanda baca. Namun menggunakan lafal pengucapan bahasa Jawa. Contoh lainnya adalah hikayat, suluk dan cerita babad.

Sistem Penanggalan dan Penyusunan Kalender

Di zaman yang lebih modern, akulturasi budaya juga merambah pada sistem penanggalan dan penyusunan kalender. Pada masa awal kebudayaan lama, kalender yang digunakan merujuk pada sistem penanggalan saka dari budaya hindu. Kemudian pada masa islam masuk, penanggalan mempunyai referensi baru, yakni penanggalan hijriyah atau penanggalan islam.

Karena akulturasi budaya terjadi di tanah jawa, maka ketiga budaya ini menyatu. Muncullah penanggalan jawa dengan sistem penyusunan kalender baru. Yakni menggunakan perhitungan bulan dan jumlah hari sepeti hijriyah. Namun juga tetap menyertakan hari pasaran seperti penanggalan saka.

Sistem Pemerintahan

Pada zaman awal, budaya yang kental adalah budaya kerajaan dimana rakyat menghormati raja. Kemudian masuk beberapa agama seperti hindu dan budha, sehingga rakyat juga menghormati brahmana dan juga biksu. Juga menganggap raja adalah titisan atau reinkarnasi dewa. Sehingga harus diakamkan di candi atau pura.

Selanjutnya muncul ajaran agama islam, yang juga mempengaruhi budaya kerajaan. Dimana raja dan para pejabat kerajaan tidak boleh disembah, hanya boleh di hormati saja. Ketika meninggal maka dikubur berdasarkan cara islam.

Kemudian zaman kerajaan runtuh, digantikan oleh sistem pemerintahan republik. Dimana pemimpinnya adalah presiden, hal ini terjadi setelah adanya pengaruh budaya eropa setelah masa penjajahan.

Cara Berpakaian dan Kebiasaan

Dalam pergaulan akulturasi budaya sangat kental terasa, baik dari kebiasaan maupun cara berpakaian. Misalkan saja pada zaman dulu, pakaian Jawa masih banyak dipakai, baik oleh kalangan bawah, menengah, maupun atas. Seiring dengan masuknya islam, pakaian berubah dari budaya jawa menjadi budaya islam. Sehingga muncullah jubah dan gamis.

Kemudian jawa islam mengakulturasi budaya cina, maka muncullah baju koko atau baju takwa. Selain itu kebiasaan-kebiasannya juga berbah. Salah satu contohnya adalah kalimat salam “Assalamualaikum” yang digunakan saat bertamu, berkomunikasi, maupun saling menyapa.

Seni Musik dan Tarian

Seni musik dan tarian sangat kental terasa akulturasinya. Banyak dari jenis seni musik dan tari yang berakulturasi membentuk seni baru. Seperti misalkan seni musik kosidah dan hadroh yang mengakulturasi budaya musik timur tengah bernafaskan islami. Tetapi alat yang digunakan adalah modifikasi dari kendang yang meruakan budaya lokal.

Sedangkan pada seni tari, yang khas adalah tarian saman. Dimana taran ini menggunakan kostum islami dan gerakan yang tidak menonjolkan gerak tubuh. Ada juga tari piring yang sekarang lebih cenderung menggunakan kostum islami.

Leave a Comment